Kamis, 24 Juni 2010

Manajemen Operasional-Pengambilan Keputusan

BAB I
PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang
Setiap individu dalam organisasi membuat keputusan. Para manajer puncak, sebagai contoh menentukan tujuan organisasi mereka, produk atau jasa apa yang akan di produksi, bagaimana sebaiknya mengorganisasikan dan mengkoordinasikan unit kegiatan dan sebagainya, termasuk manajer tingkat menengah atau bawah tergantung pada kewenangannya masing-masing.
Kualitas keputusan manjerial merupakan ukuran dari efektifitas manager. Proses pengambilan keputusan adalah bagaimana perilaku dan pola komunikasi manusia sebagai individu dan sebagai anggota kelompok dalam struktur organisasi salah satu pentingnya adalah pengambilan keputusan.

1.2 Rumusan Masalah
1. Tipe-tipe keputusan
2. Pengaruh perilaku terhadap pengambilan keputusan individu
3. Model Pengambilan Keputusan Optimasi (Optimizing decision making model )
4. Bagaimana Hendaknya Keputusan Diambil
5. Bagaimana Seseungguhnya Keputusan Diambil Dalam Organisasi
6. Indetifikasi Masalah
7. Bagaimana Dengan Etika Pengambilan keputusan


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Tipe-Tipe Keputusan
Ada 2 macam tipe pengambilan keputusan, yaitu ;
1. Keputusan Terprogram (programmed decision) adalah suatu cara/prosedur yang lebih spesifik kepada suatu masalah yang dikembangkan untuk masalah-masalah rutin dan berulang.
2. Keputusan tidak terprogram (unprogrammed decision) adalah keputusan yang membutuhkan manajemen atau proses yang cukup panjang dalam pengambilan keputusannya karena biasanya digunakan untuk masalah-masalah yang unik dan kompleks. Secara ideal, manajemen puncak harusnya memperhatikan keputusan tidak terprogram, sementara manajer tingkat pertama lebih memperhatikan keputusan terprogram. Di banyak organisasi, manajer madya lebih mengkonsenstrasikan pada keputusan terprogram meskipun di beberapa kasus juga berpartisipasi dalam keputusan tidak terprogram, dengan kata lain berdasarkan sifat, frekuensi dan tingkat kepastian yang melingkupi masalah tersebut akan mengarah pada tingkat manajemen yang mana suatu keputusan harus diambil.

Perbandingan Tipe Keputusan

Aktivitas Keputusan terprogram Keputusan tidak terprogram
Masalah Sering, berulang, rutin hubungan sebab akibat lebih pasti Baru, tidak terstruktur. Banyak ketidakpastian dalam hubungan sebab akibat.
Prosedur Ketergantungan pada kebijakan, aturan,dan prosedur pasti. Perlunya kreatifitas, intuisi, toleransi pada hal-hal yang membingungkan, pemecahan masalah kreatif
Contoh:
-bisnis

-Universitas



-Perawatan kesehatan


-Pemerintah

Pesanan persediaan kembali secara periodik.
Tingkat rata-rata yang diperlukan bagi posisi akademik yang baik.

Prosedur penerimaan pasien.

System merit bagi promosi pegawai pemerintah

Diversifikasi ke dalam produk dan pasar baru.
Konstruksi dari fasilitas ruang kelas yang baru.


Pembelian peralatan eksperimen.

Re-organisasi dari badan pemerintah.

2.1.2 Pengaruh Perilaku Terhadap Pengambilan Keputusan Individu
Faktor perilaku mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Beberapa darinya hanya mempengaruhi aspek tertentu saja dari proses sedangkan lainnya ada pula yang mempengaruhi seluruh proses. Walaupun demikian masing-masing darinya mempunyai dampak terhadap proses pengambilan keputusan dalam organisasi . Terdapat empat faktor perilaku individu yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan yaitu :
1. Nilai
Sistem nilai menjadi pedoman bagi semua orang saat mereka berada pada situasi mengambil keputusan. Sistem tata nilai dibutuhkan pada kehidupan dan menjadi dasar bagi pola pikir seseorang dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan di bidang :
o Menetapkan sasaran , pertimbangan tata nilai mesti dibuat saat memilih kesempatan dan menetapkan proses.
o Mengembangkan alternatif, pertimbangan tata nilai tentang berbagai kemungkinan yang dibutuhkan.
o Memilih alternatif, sistem tata nilai pengambil keputusan mempengaruhi alternatif yang dipilih.
o Implementasi keputusan, pertimbangan sistem nilai dibutuhkan saat memilih sarana untuk implementasi.
o Kontrol dan evaluasi, pertimbangan sistem tata nilai tidak dapat dihindari saat tindakan koreksi diputuskan dan diambil.
2. Kepribadian
3. Kecenderungan mengambil risiko
4. Potensi ketidaksesuaian

Model Pengambilan Keputusan Optimasi (Optimizing decision making model )
Yang dimaksud Model Optimasi, yaitu suatu model pengambilan keputusan yang menguraikan individu-individu seharusnya berperilaku agar memaksimumkan semua hasil. Model ini menggambarkan bagaimana setiap individu berperilaku sehingga memberikan hasil yang optimal.
Langkah-langkah dalam model optimasi :
1. Lakukan kebutuhan akan suatu keputusan
Dalam langkah ini diperlukan pengakuan tentang kebutuhan keputusan yang dibuat. Masalah yang merupakan perbedaan antara keadaan yang diinginkan dengan keadaan yang sebenarnya diperlukan adanya pengakuan.
2. Menentukan kriteria yang diputuskan
Dalam langkah ini kriteria yang penting dan relefan dalam menentukan keputusan harus diidentifikasikan.
3. Menentukan kriteria yang berbobot
Kriteria yang telah disusun tidak semuanya mempunyai arti penting yang sama dan harus ditetapkan bobotnya sehingga pengambil keputusan dapat menggunakan preferensi mereka untuk memprioritaskan kriteria mana yang relevan maupun untuk menyatakan derajat relatif pentingnya memberikan suatu bobot kepada masing-masing.
4. Mengembangkan alternatif
Dalam hal ini pengambil keputusan mendaftar semua alternatif. Alternatif yang dipilih/terpilih merupakan/menentukan keberhasilan pemecahan masalah.
5. Menilai beberapa alternatif
Suatu alternatif harus ditentukan oleh pengambil keputusan. Kuat atau lemahnya setiap alternatif akan menjadi bahan perbandingan terhadap kriteria dan bobot yang telah ditetapkan dalam langkah kedua dan ketiga. Penilaian setiap alternatif dilakukan dengan menilai terhadap bobot kriteria.
6. Memilih alternatif
Dalam langkah ini adalah memilih yang terbaik diantara alternatif-alternatif yang dinilai. Dari total skor yang tertinggi maka akan memudahkan terhadap alternatif manakah yang dipilih.
- Asumsi Model Optimasi
Tahapan dalam model optimasi terdiri dari beberapa asumsi. Asumsi ini penting untuk dipahami jika kita akan menentukan bagaimana model optimasi secara tepat menggambarkan pengambilan keputusan oleh individu secara nyata. Asumsi penting yang dipilih oleh model ini sama dengan konsep rasional yang menunjukkan pilihan yang konsisten dan memberikan nilai yang maksimum. Oleh karena itu, pengambilan keputusan dilakukan secara objektif dan menurut logika.
Individu yang telah mempunyai tujuan yang jelas, maka enam langkah dalam model optimasi telah ditentukan untuk memilih alternatif yang akan memberikan hasil yang maksimum. Tahapan model optimasi terdiri dari asumsi sebagai berikut :
1. Orientasi kepada tujuan
Model optimasi mengamsumsikan bahwa tidak ada perbedaan atas semua tujuan. Misalnya, apakah keputusan memilih menurut pendapat kelompok, menentukan apakah pergi atau tidak pergi bekerja pada hari ini, atau memilih pelamar yang tepat untuk mengisi jabatan yang kosong. Pillihan tersebut harus memberikan hasil yang maksimum.
2. Mengetahui semua pilihan
Pengambil keputusan diasumsikan dapat menentukan semua kriteria yang relevan dan mendata semua alternatif yang ada. Model optimasi menggambarkan secara menyeluruh dari pengambil keputusan tentang kemampuannya dalam menetapkan kriteria dan alternatif.
3. Adanya pilihan yang jelas
Secara rasional bahwa kriteria dan alternatif ditentukan menurut jumlah dan diurut dalam urutan yang disukai atau yang sudah pasti.
4. Adanya pilihan yang tetap
Kriteria dan alternatif yang sama dapat diperoleh setiap saat begitu pada tujuan dan pilihan sudah jelas dan tetap.
5. Pilihan akhir memberikan hasil yang maksimum
Menurut model optimasi pengambil keputusan akan memilih suatu alternatif yang bernilai tinggi.
• Model Pengambilan keputusan yang lain ( Alternatif decision = making models )
Model-model Pengambilan keputusan yang dimaksud dalam hal ini adalah :
1. Model Satisficing/kepuasan
Model kepuasan merupakan suatu model pengambilan keputusan dimana pengambilan keputusan memilih pertama kali pemecahan yang dianggap cukup baik, yaitu memuaskan (satisfactory) dan cukup (sufficient).
2. Model keunggulan implisit
Model keunggulan implisit suatu model pengambil keputusan dimana secara dini dalam proses keputusan itu pengambil keputusan secara implisit (tersurat) memilih suatu alternatif yang lebih diinginkan sebelumnya dalam proses keputusan dan penalaran terhadap pilihan yang lainnya.
Dalam pencarian alternatif-alternatif baru berakhir jika sebelum pembuat keputusan bersedia mengakui telah mengambil keputusannya. Proses pengambilan keputusan dalam model ini dipengaruhi oleh perasaan-perasaan intuitif yang jauh lebih besar daripada keobjektifan rasional.


2.1.3 Model intuitif
Model penngambilan keputusan intuitif adalah suatu proses pengambilan keputusan tak sadar atau biasanya muncul secara tiba-tiba dan berasal dari dalam pengalaman yang telah terjadi. Institusi ini tidak selalu berjalan secara bersama-sama, tetapi tergantung dengan analisis rasional; lebih tepat, keduanya saling melengkapi (komplementer).
2.1.4 Bagaimana Hendaknya Keputusan Diambil
Marilah kita mulai dengan menggambarkan bagaimana individu hendaknya berperilaku dalam rangka memaksimisasikan atau mengoptimasikan hasil (outcome) tertentu dia menyebut ini proses pengambilan keputusan rasional.
- Meningkatkan Kreatifitas dalam Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan rasional membutuhkan kreatifitas yakni kemampuan untuk menggabungkan gagasan dalam satu cara yang unik atau untuk membuat asosiasi-asosiasi luar biasa, diantara gagasan-gagasan mengapa kreativitas memungkinkan digunakan sebagai salah satu cara pengambilan keputusan untuk lebih menghargai dan memahami masalah, termasuk melihat masalah-masalah yang tidak dapat dilihat orang lain akan tetapi nilai yang paling jelas dari kreativitas adalah dalam membantu pengambilan keputusan mengindentifikasi semua alternatif yang ada atau dapat dilihat.
- Potensi kreatif kebanyakan orang mempunyai potensi kreatif yang dapat mereka gunakan bila dikonfrotasikan dengan sebuah masalah yang menuntut mereka untuk mengambil keputusan namun, kebanyakan dari kita yang terlibat didalamnya harus belajar bagaimana berpikir tentang satu masalah tidak hanya dalam satu sisi, tetapi berbagai macam sisi dan sudut pandang. Sebagai contoh kita dapat membandingkan orang yang sangat jelas dalam segi kreatifitas dan semua itu adalah sesuai dengan potensi masing-masing. Seperti : Einstein, Edison, Piccaso, dan Mozart merupakan individu-individu dengan pengecualian kreativitas.
2.1.5 Bagaimana Seseungguhnya Keputusan Diambil Dalam Organisasi
Apakah pengambilan keputusan dalam organisasi itu rasional? Apakah mereka secara cermat dapaat menilai suatu masalah, mengidentifikasi semua kriteria yang relevan menggunakan kreativitas mereka untuk mengidentifikasi semua alternatif supaya dapat menemukan suatu pilihan yang optimal?
Bila para pengambilan keputusan berhadapan dengan suatu masalah sederhana yang memiliki beberapa jalur tindakan alternatif dan bila biaya mencari dan mengevaluasi alternatif itu rendah, maka model rasional memberikan satu deskripsi yang cukup cermat tentang proses keputusan. Tetapi situasi tersebut merupakan pengecualian.
Kebanyakan keputusan dalam dunia nyata tidak mengikuti model rasional. Sebagai contoh, orang biasanya berniat untuk menemukan suatu pemecahaan yang masuk akal dan atas suatu masalah.Bila anda mempertimbangkan perguruan tinggi mana yang anda pilih untuk kemudian anda masuki, apakah Anda sering melihat setiap alternatif yang tampak? Apakah anda secara cemat mengidentifikasi semua kriteria yang paling penting dalam keputusan anda? Apakah anda mengevaluasi masing-masing alternatif terhadap kriteria dalam rangka menemukan perguruan tinggi terbaik? Saya menduga jawaban terhadap pertanyaan ini adalah “tidak”. Tapi. Beberapa orang menentukan pilihan perguruan tinggi dengan cara ini. Walaupun tidak optimal, Bila berhadapan dengan masalah yang kompleks, kebanyakan orang menaggapi dengan mengurangi masalah pada level mana masalah ini dapat dipahami. Ini disebabkan kerena kemampuan manusia mengelola informai terbatas, dan hanya memahami semua informasi yang perlu untuk optimasi. Dengan demikian orang orang puas: artinya, mereka mencari pemecahan yang cukup memuaskan.
Karena kemampuan dari pikiran manusia untuk memformulasi dan menyelesaikan masalah yang rumit itu terlalu kecil untuk memnuhi tuntutan yang rasionalitas penuh, para individu beroperasi dalam keterbatasan rasionalitas berikat. Mereka merancang bngun model-model yang disederhanakan yang menyuling ciri-ciri yang hakiki dari masalah-masalah tanpa menangkap semua kerumitannya. Selanjutnya para individu dapat berperilaku rasional dalam batas-batas model yang sederhana.
2.1.6 Indetifikasi Masalah
Masalah tidak muncul dengan cahaya neon yang sebentar–sebentar menyala untuk mengidentifikasi dirinya sendiri dan masalah seseorang merupakan status quo yang dapat diterima dari orang lain lalu bagaimana pengambilan keputusan mengindentifikasi dan menyeleksi masalah.
2.1.7 Bagaimana Dengan Etika Pengambilan keputusan
Tidak ada pembahasan kontemporter pengambilan keputusan akan lengkap tanpa dimasukkanya etika mengapa karena pertimbangan etis seharusnya merupakan suatu kriteria yang penting dalam pengambilan keputusan organisasional dalam seksi ini kami menyajikan tiga cara yang berlainan untuk membuat kerangka keputusan dan memeriksa faktor-faktor yang membentuk perilaku pengambilan keputusan etis.



2.2 Pengambilan keputusan yang di lakukan di PT. Makmur Sentosa Abadi.
Penjelasan singkat tentang PT. Selatan Makmur Indonesia.
PT. Makmur Sentosa Abadi ada sebuah perusahaan manufacture yang bergerak di bidang percetakan umum, Perusahaan tersebut mengolah bahan baku (material) kertas putih dalam bentuk gulungan-gulungan (roll) menjadi lembaran-lembaran kecil (ukuran 79 x 109 cm), dan pada proses produksinya bahan baku mentah tersebut di proses dengan cara pemberian warna (proses dyeing printing) dan pemberian motif (Pattern making) sehingga pada aplikasinya produk yang di hasilkan dapat digunakan sebagai bahan baku kertas undangan, kartu nama, map dan lain-lain. Dalam proses dari mulai masuknya bahan mentah sebagai bahan baku, proses produksi, proses inspecting, packaging hingga proses pengiriman produk/barang kepada konsumen semuanya tidak terlepas dari berbagai macam proses yang tentunya harus dilakukan pengambilan keputusan (decision making) dalam setiap proses yang harus dilaluinya, berikut dibawah ini gambaran singkat proses yang harus dilakukan dalam setiap masalah yang terjadi.
2.2.1 Pengambilan keputusan
Dilihat dari kondisi atau keadaan dari keputusan yang harus diambil, ada 4 macam pengambilan keputusan yang biasa diambil:
1. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang pasti.
Maksud dari peristiwa yang pasti disini adalah hal-hal atau masalah yang pasti akan terjadi dalam setiap proses yang harus dilewati. Dan biasanya ini merupakan hal-hal yang selalu berulang di dalam setiap proses produksi.
2. Pengmbilan keputusan atas peristiwa yang mengandung resiko.
Maksud dari pengambilan keputusan yang mengandung resiko adalah masalah-masalah yang mungkin akan terjadi dalam setiap proses pengolahan material bahan baku menjadi barang jadi dan setiap masalah yang terjadi itu akan berkaitan dengan effisiensi (efektifitas kerja, production cost, keterlambatan waktu pengiriman,dll)
3. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang tak pasti.
Maksudnya dari peristiwa yang tidak pasti ini adalah pada saat proses pengolahan bahan baku menjadi barang jadi pada saat proses produksi terjadi kerusakan mesin secara tiba-tiba, sehingga proses produksi terhambat dan tidak sesuai dengan time table yang sudah dibuat atau bisa juga masalah timbul dari material bahan baku yang cacat, sehingga tidak memuungkinkan bisa diolah menjadi barang jadi.
4. Pengambilan keputusasn atas peristiwa yang timbul karena pertentangan dengan keadaan lain.
Biasanya berhubungan dengan mesin produksi dan terjadi ketika mesin memproduksi 2 jenis produk yang sama (berbarengan) namun ketika satu mesin mengalami masalah (kerusakan) dan membutuhkan bagian mesin yang sama pada mesin lain (spare part) otomatis tidak mungkin di putuskan 2 mesin diteruskan tetap produksi karena bagaimana pun pasti harus ada salah satu mesin yang harus berhenti dan diganti dengan memproduksi barang lain yang tidak mengganggu mesin lain.
Beberapa pengambilan keputusan dalam manajemen operasi :
- Proses : keputusan mengenai proses fisik dan fasilitas yang dipakai
- Kapasitas : keputusan untuk menghasilkan jumlah, tempat dan waktu yang tepat
- Persediaan ; keputusan persediaan mencakup mengenai apa yang dipesan, berapa banyak, kualitas dan kapan bahan baku dipesan.
- Tenaga kerja : keputusan tenaga kerja mencakup, seleksi, rekruitment, penggajian, PHK, pelatihan, supervise, kompensasi dan promosi terhadap karyawan, maupun penggunaan tenaga spesialis.
- Kualitas/mutu : keputusan untuk menetukan mutu barang dan jasa yang dihasilkan,penetapan standar, desain peralatan,karyawan trampil, dan pengawasan produk dan jasa.
2.2.2 Keputusan dalam manajemen Sistem Produksi :
- Keputusan Perencanaan strategik jangka panjang dalam sumber daya.
- Desain sistem produktif : pekerjaan, jalur proses, tata arus,dan susunan sarana fisik
- Keputusan Implementasi operasi ; harian, mingguan dan bulanan.
Biasanya berhubungan dengan time table produksi mesin, jadi disini dapat dilakukan perencanaan produksi harian, mingguan atau bahkan bulanan barang apa saja yang harus di produksi.
Keputusan perencanaan strategis :
- Pemilihan Desain rangkaian produk dan jasa
Dalam tahapan pemilihan Desain rangkaian produk yang akan di produksi biasanya kami melakukan survey pasar dengan menanyakan kepada customer kami produk apa yang saat ini sedang menjadi trend dipasaran, karena hampir setiap bulan tren dari produk yang kami buat mengalami perubahan dan sebagai acuan untuk memproduksi barang tersebut kami menggunakan atau melihat produk hasil produksi dari pesaing sebagai sampel, atau biasanya para customer mengirimkan sampel dari suatu produk yang baru yang belum pernah kami buat sebelumnya namun sebelum di produksi dalam jumlah yang banyak sampel tersebut kami kirim dulu ke bagian Research and Development untuk dilakukan pengujian apakah produk tersebut layak untuk di produksi atau tidak (mudah dibuat, ongkos produksinya rendah, bahan bakunya mudah didapat,dan sebagainya). Apabila sudah diketahui maka kami mulai merencanakan untuk memproduksi dalam jumlah yang banyak.


- Keputusan perencanaan kapasitas, lokasi gudang, rencana ekspansi
Untuk keputusan perencanaan kapasitas dan rencana ekspansi memerlukan waktu yang cukup lama karena kita harus melihat respon pasar terhadap produk yang kami buat apabila responnya positif dan permintaan banyak kami mulai merencanakan kapasitas produksi yang lebih banyak dan ekspansi yang lebih luas.
- Sistem penyimpanan dan logistik.
Sistem penyimpanan yang kami lakukan adalah dengan metode First In First Out, sehingga barang tidak terlalu lama berada di gudang karena ada kemungkinan barang akan rusak walaupun kemungkinannya sangat kecil dan untuk proses logistik kami biasanya mengirimkan langsung kepada customer namun ada juga yang harus melalui agen-agen yang kami miliki. Sehingga kami mengirimkan barang tersebut hanya sampai agen dan selepas itu segala bentuk kerusakan ataum masalah yang terjadi pada barang tersebut sudah tidak menjadi tanggung jawab kami sebagai produsen.


BAB III
PENUTUP


3. Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah sarana untuk mencapai tujuan atau memecahkan suatu masalah, hasil dari suatu proses yang dipengaruhi oleh berbagai kekuatan.
Jadi keputusan harus dianggap sebagai sarana bukan hasil. Keputusan adalah mekanisme organisasional dengan bentuk usaha untuk mencapai suatu tujuan yang tertentu. Dengan kata lain merupakan respon organisasional terhadap suatu masalah. Setiap keputusan merupakan hasil dari suatu proses dinamik yang dipengaruhi oleh berbagai kekuatan.

2 komentar:

  1. artikelnya menarik sekali untuk di baca makasi gan. salam kenal saya

    BalasHapus
  2. wiiihhhhh,,,mantep banget deh,materinya padat berisi...saya suka artikelnya...sipppp...

    BalasHapus